Suasana berbeda tampak di salah satu ruang kelas SMK Plus Khoiriyah Hasyim pada Kamis di penghujung April. Tidak ada wajah tegang menghafal materi atau suara guru menjelaskan panjang lebar di depan kelas. Sebaliknya, tawa dan semangat siswa justru memenuhi ruangan saat mereka sibuk dengan praktik sablon DTF pada kaos.
Siswa kelas XI hari itu tidak sekadar belajar teori. Mereka terjun langsung mempraktikkan proses menempelkan desain ke kaos polos menggunakan alat press. Kaos hitam yang semula sederhana, perlahan berubah menjadi produk menarik berkat sentuhan kreativitas mereka.
Satu per satu siswa mencoba alat press dengan penuh antusias. Wajah-wajah riang terlihat jelas saat desain yang mereka buat berhasil menempel sempurna di permukaan kain. Momen ini bukan hanya tentang hasil, tetapi juga pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna.
Menurut Pak Mohammad Haidar Ali, M.M., kegiatan seperti ini rutin dilakukan setiap semester. Selain sebagai sarana melatih keterampilan, praktik ini juga sering dikaitkan dengan pesanan nyata dari pihak luar. Dengan begitu, siswa tidak hanya belajar teknik, tetapi juga memahami alur kerja industri yang sesungguhnya.
SMK Plus Khoiriyah Hasyim sendiri terus mengembangkan berbagai layanan berbasis keterampilan siswa. Tidak hanya melayani cetak DTF, sekolah ini juga memproduksi berbagai aksesoris seperti gantungan kunci, stiker, cetak mug, kartu tanda anggota (KTA), hingga jasa foto dan videografi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran kewirausahaan yang diterapkan di sekolah. Siswa diajak untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha sejak dini.
Dampaknya pun mulai terlihat. Banyak alumni SMK Plus Khoiriyah Hasyim yang saat ini, meski masih berkuliah, sudah aktif menerima pekerjaan freelance di bidang fotografi dan videografi. Bahkan, beberapa di antaranya telah mandiri dengan membuka usaha persewaan dan jasa multimedia.
Dari sebuah ruang kelas sederhana, lahir semangat besar untuk berkarya. Praktik sablon DTF ini bukan sekadar pelajaran, melainkan langkah awal siswa menuju dunia kerja dan wirausaha yang sesungguhnya.