Akhir April menjadi momen yang tak hanya diisi dengan penuntasan target belajar, tetapi juga penguatan batin bagi siswa SMK Plus Khoiriyah Hasyim Tebuireng. Dari dalam musholla sekolah, lantunan istighotsah kembali menggema, menghadirkan suasana khidmat yang menenangkan hati.
Pagi itu, setelah melaksanakan shalat Dhuha berjamaah, para siswa, siswi, dan guru berkumpul dalam satu majelis. Dipimpin oleh Tito dari kelas XI dan Hafidz dari kelas X, istighotsah yang dibaca merupakan amalan yang disusun oleh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari. Setiap lafaz doa mengalun perlahan, mengajak seluruh yang hadir untuk menundukkan hati dan menata kembali niat.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Bapak Muhammad Roihan Sugondo, S.Pd., menambah kekhusyukan suasana. Dalam keheningan yang tercipta, terselip harapan-harapan yang dipanjatkan, baik untuk kelancaran belajar, masa depan, maupun keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Istighotsah akhir bulan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan menjadi “charger” spiritual bagi siswa. Di tengah padatnya aktivitas dan tuntutan belajar, semangat kerap mengalami penurunan. Melalui kegiatan ini, siswa diajak untuk kembali menemukan motivasi, memperkuat harapan, dan menyadari bahwa usaha harus selalu diiringi dengan doa.
SMK Plus Khoiriyah Hasyim Tebuireng memandang bahwa kesiapan siswa tidak hanya diukur dari kemampuan akademik dan keterampilan teknis semata. Lebih dari itu, pembentukan karakter dan kesiapan mental menjadi nilai penting yang terus ditanamkan. Dengan bekal spiritual yang kuat, siswa diharapkan mampu menghadapi beragam karakter dan dinamika kehidupan di masyarakat.
Usai kegiatan istighotsah, para siswa kembali ke kelas untuk melanjutkan kegiatan belajar mengajar. Namun, ada sesuatu yang berbeda—hati yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, dan semangat yang kembali terisi.
Dari musholla sederhana itu, lahir kekuatan yang tak kasat mata, namun mampu menjadi fondasi kokoh bagi perjalanan siswa dalam menggapai masa depan.